Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Umumkan bahwa kita akan segera berangkat pulang!”
Beliau pun memimpin pasukan kaum muslimin dalam perjalanan pulang di tengah panas terik. Beliau berjalan selama satu hari satu malam, ditambah keesokan paginya sampai tengah hari. Lalu beliau beristirahat.
Kemudian beliau melanjutkan perjalanan seperti sebelumnya sehingga genap tiga hari, sampai beliau tiba di balik bukit Musyallal.
Setibanya di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh seseorang untuk memanggil Umar.
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hai Umar! Apakah kamu akan membunuhnya (Abdullah bin Ubay) jika aku menyuruhmu untuk membunuhnya?”
“Ya,” jawab Umar.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah! Seandainya kamu membunuhnya pada hari itu, niscaya kau akan membuat beberapa orang merasa terhina. Seandainya aku menyuruh kaum muslimin untuk membunuhnya pada hari ini, pasti mereka juga akan membunuhnya, lalu orang-orang akan membicarakan bahwa aku telah menindas sahabat-sahabatku sendiri dengan membunuh mereka dalam keadaan tidak berdaya.”
Lalu Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat:
“Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar), Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).
Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami.
Mereka berkata, “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.”
Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (QS. Al-Munafiqun: 7-8)
[Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya (4/372) bahwa ini merupakan rangkaian kisah yang langka, dan di dalamnya terdapat nilai-nilai berharga yang hanya ditemukan dalam hadis tersebut].
[Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Bari (8/458) bahwa hadis ini merupakan hadis yang mursal dan jayyid].
Ibnu Ishaq telah menceritakan kisah tersebut secara panjang lebar, sebagaimana dalam kitab Al-Bidayah (4/157).
Didalam rangkaian kisahnya disebutkan: Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin orang-orang untuk melanjutkan perjalanan pada hari itu sampai sore, juga pada malam harinya sampai pagi hari lagi, kemudian dilanjutkan lagi pada permulaan hari itu sampai panas matahari terasa menyengat.
Setelah itu, beliau memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk singgah. Maka begitu menyentuh tanah, mereka pun tertidur lelap.
Beliau melakukan semua itu hanyalah untuk membuat orang-orang tidak sempat membicarakan apa yang telah dikatakan pada hari sebelumnya oleh Abdullah bin Ubay.






