6 - Jihad

Ka’b bin Malik Al-Ansari Tak Menyertai Nabi pada Perang Tabuk Dikucilkan 50 Hari, Taubatnya Diterima Allah (3)

14
×

Ka’b bin Malik Al-Ansari Tak Menyertai Nabi pada Perang Tabuk Dikucilkan 50 Hari, Taubatnya Diterima Allah (3)

Sebarkan artikel ini

LALU ketika aku mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda dengan wajah yang berseri-seri karena begitu gembiranya,

“Bergembiralah kamu, dengan sebaik-baik hari yang berlalu dalam kehidupanmu sejak kamu dilahirkan oleh ibumu!”

Aku berkata, “Apakah ampunan ini darimu wahai Rasulullah, atau dari Allah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bukan dariku, tapi dari Allah.”

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang bergembira, wajah beliau terlihat bercahaya laksana kepingan bulan. Kami dapat mengetahui raut wajah seperti itu pada diri beliau.

Setelah duduk di hadapan beliau, aku berkata, “Wahai Rasulullah! Sebagai bentuk taubatku, aku ingin menginfakkan seluruh hartaku
untuk Allah dan Rasul-Nya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sisakanlah sebagian dari hartamu. Hal ini lebih baik bagimu.”

Aku berkata, “Kalau begitu, aku akan menyisakan jatah hartaku yang ada di Khaibar.”

Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah! Allah telah menyelamatkanku dengan sebab kejujuran. Dan diantara bentuk taubatku adalah aku tidak akan bicara kecuali dengan jujur selama sisa umurku.”

Demi Allah! Sejak aku berkata jujur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam waktu itu, aku tidak mengetahui seorang pun di kalangan kaum muslimin yang diberi nikmat oleh Allah, berkenaan dengan kejujuran bicaranya, dengan nikmat yang lebih baik daripada yang Dia berikan kepadaku.

Sejak aku berkata jujur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pula pada waktu itu, aku tidak pernah satu kali pun sengaja berkata dusta.

Dan sungguh, aku berharap kepada Allah agar menjagaku tetap berkata jujur dalam sisa umurku.

Allah pun menurunkan ayat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu.

Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja.

Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.

Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 117-119).

Demi Allah! Tidak ada nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepadaku setelah Dia memberi petunjuk kepadaku untuk memeluk Islam, yang terasa lebih besar dalam diriku daripada kejujuranku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan tidak berdusta kepada beliau.

Seandainya aku berdusta, tentu aku akan binasa sebagaimana binasanya orang-orang yang telah berdusta, karena Allah telah
mewahyukan firman-Nya mengenai orang-orang yang berdusta (dari kalangan orang-orang munafik) dengan seburuk-buruk ucapan yang pernah Dia firmankan.

Allah ta’ala berfirman: “Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka.

error: Content is protected !!