6 - Jihad

Usai Perang Al-Muraisi, Nabi SAW. Percepat Perjalanan Pulang Untuk Hentikan Perselisihan Sesama

3
×

Usai Perang Al-Muraisi, Nabi SAW. Percepat Perjalanan Pulang Untuk Hentikan Perselisihan Sesama

Sebarkan artikel ini

IMAM BUKHARI meriwayatkan beserta sanadnya dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika kami berada dalam suatu peperangan pernah pada waktu yang lain, Sufyan (perawi) menyampaikan: Bersama suatu
pasukan, seorang laki-laki Muhajirin menendang dubur seorang laki-laki Anshar dengan punggung telapak kakinya.

Maka orang Anshar itu berseru, “Wahai, orang-orang Anshar!Tolonglah aku!”

Orang muhajirin itu juga berseru, “Wahai orang-orang Muhajirin! Tolonglah aku!”

Ketika mendengar pertengkaran mereka itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apa yang terjadi sehingga terdengar seruan jahiliyah itu?”

Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah! Seorang laki-laki Muhajirin menendang dubur seorang laki-laki Anshar dengan punggung telapak kakinya.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tinggalkan seruan seperti itu, karena seruan itu berbau busuk.”

Ketika mendengar kejadian tersebut, Abdullah bin Ubay berkata, “Benarkah orang-orang Muhajirin melakukan semua ini? Demi Allah! Sungguh, jika kita telah kembali ke Madinah, orang-orang yang kuat benar-benar akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana.

Akhirnya perkataan Ubay ini terdengar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Umar radhiyallahu ‘anhu bangkit lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Biarkan aku memenggal leher orang munafik itu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Biarkan ia! Jangan sampai orang-orang mengatakan bahwa Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) telah membunuh sahabat-sahabatnya sendiri.”

Ketika orang-orang Muhajirin baru tiba di Madinah, jumlah kaum Anshar lebih banyak daripada jumlah kaum Muhajirin. Kemudian sesudah terjadi peristiwa ini. Jumlah orang-orang Muhajirin bertambah banyak.

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Muslim, Imam Ahmad, dan Baihaqi, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dengan lafal yang sebagian besarnya sama, sebagaimana dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir (4/370).

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan beserta sanadnya dari ‘Urwah bin Zubair dan ‘Amr bin Tsabit Al-Anshari bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat untuk Perang Al Muraisi.”

Dalam perang inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghancurkan berhala yang bernama Manah, sebuah berhala
yang berada di antara bukit Musyallal dan laut Merah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu untuk menghancurkan berhala Manah.

Dalam perang yang diikuti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, ada dua orang yang berkelahi. Salah seorang dari mereka berasal dari kalangan Muhajirin, sedangkan yang lain dari Kabilah Bahz, sekutu orang-orang Anshar.

Orang yang berasal dari kalangan Muhajirin itu berhasil mengalahkan orang yang berasal dari Kabilah Bahz.

Maka orang Bahz itu berteriak, “Wahai orang-orang Anshar!”

Lalu ia ditolong oleh beberapa orang Anshar. Sedangkan orang dari kalangan Muhajirin itu juga berteriak, “Wahai orang-orang Muhajirin!”

Lalu ia ditolong oleh beberapa
orang Muhajirin. Bahkan terjadi sedikit perkelahian antara orang-orang Muhajirin dan Anshar tersebut.

Kemudian kedua pihak tersebut berhasil dilerai. Lalu semua orang munafik atau orang yang ada penyakit dalam hatinya berkumpul di hadapan Abdullah bin Ubay bin Salul.

Masing-masing berkata kepada Abdullah, “Sebelumnya engkau adalah orang yang sangat diharapkan dan bisa membela, akan tetapi sekarang engkau tidak lagi melakukan sesuatu yang merugikan ataupun menguntungkan.

Sementara para Jalabib itu saling menolong untuk memusuhi kita.” -Orang-orang munafik biasa menyebut orang yang baru datang berhijrah ke Madinah dengan sebutan Jalabib.

Abdullah bin Ubay -musuh Allah- berkata, “Demi Allah! Sungguh, jika kita telah kembali ke Madinah, orang-orang yang kuat benar-benar akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana.”

Malik bin Dukhsyun -salah seorang munafik- berkata, “Bukankah aku telah berkata kepada kalian: Janganlah kalian memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam)?”

Ketika perkataan tersebut sampai ke
telinga Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk memenggal leher orang yang telah menimbulkan kekacauan di antara orang banyak.” -Orang yang dimaksud oleh Umar radhiyallahu ‘anhu adalah Abdullah bin Ubay.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Umar, “Apakah kamu akan membunuhnya jika aku perintahkan kepadamu untuk membunuhnya?”

Jawab Umar, “Ya, demi Allah! Jika engkau memerintahkanku agar membunuhnya, pasti aku akan memenggal lehernya.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Duduklah kamu.”

Kemudian datanglah Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu, seorang Anshar yang berasal dari Bani Abdil-Asyhal.

Sesampainya di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkan aku memenggal leher orang yang telah menimbulkan kekacauan di antara orang banyak itu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kamu akan membunuhnya jika aku perintahkan kepadamu untuk membunuhnya?”

Jawab Usaid, “Ya, demi Allah! Jika
engkau memerintahkanku agar membunuhnya, pasti aku akan memenggal lehernya di bawah cuping telinganya dengan pedang.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Duduklah kamu.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Umumkan bahwa kita akan segera berangkat pulang!”

Beliau pun memimpin pasukan kaum muslimin dalam perjalanan pulang di tengah panas terik. Beliau berjalan selama satu hari satu
malam, ditambah keesokan paginya sampai tengah hari. Lalu beliau beristirahat.

Kemudian beliau melanjutkan perjalanan seperti sebelumnya sehingga genap tiga hari, sampai beliau tiba di balik bukit Musyallal.

Setibanya di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh seseorang untuk memanggil Umar.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hai Umar! Apakah kamu akan membunuhnya (Abdullah bin Ubay) jika aku menyuruhmu untuk membunuhnya?”

“Ya,” jawab Umar.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah! Seandainya kamu membunuhnya pada hari itu, niscaya kau akan membuat beberapa orang merasa
terhina. Seandainya aku menyuruh kaum muslimin untuk membunuhnya pada hari ini, pasti mereka juga akan membunuhnya, lalu orang-orang akan membicarakan bahwa aku telah menindas sahabat-sahabatku sendiri dengan membunuh mereka dalam keadaan tidak berdaya.”

Lalu Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat:

“Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar), Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).

Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak
memahami.

Mereka berkata, “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.”

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (QS. Al-Munafiqun:
7-8)

[Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya (4/372) bahwa ini merupakan rangkaian kisah yang langka, dan di dalamnya terdapat nilai-nilai berharga yang hanya ditemukan dalam hadis tersebut].

[Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Bari (8/458) bahwa hadis ini merupakan hadis yang mursal dan jayyid].

Ibnu Ishaq telah menceritakan kisah tersebut secara panjang lebar, sebagaimana dalam kitab Al-Bidayah (4/157).

Didalam rangkaian kisahnya disebutkan: Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin orang-orang untuk melanjutkan perjalanan pada hari itu sampai sore, juga pada malam harinya sampai pagi hari lagi, kemudian dilanjutkan lagi pada permulaan hari itu sampai panas matahari terasa menyengat.

Setelah itu, beliau memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk singgah. Maka begitu menyentuh tanah, mereka pun tertidur lelap.

Beliau melakukan semua itu hanyalah untuk membuat orang-orang tidak sempat membicarakan apa yang telah dikatakan pada hari sebelumnya oleh Abdullah bin
Ubay.

error: Allahu Akbar