Makanan dan minuman itu pun masih tersisa seperti halnya pada kali yang pertama.
Lalu Abu Lahab berkata, “Kami tidak pernah melihat sihir seperti ini.
Kemudian (pada hari ketiga, beliau berkata lagi, “Hai Ali! Buatlah makanan berupa kaki kambing dengan satu sha’ gandum, dan siapkanlah semangkuk besar susu.”
Aku pun melakukannya. Lalu beliau berkata, “Hai Ali! Undanglah Bani
Hasyim agar berkumpul di sini.”
Maka aku mengumpulkan mereka. Lalu mereka makan dan minum.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengejutkan mereka dengan berkata, “Siapa diantara kalian yang sanggup melunasi utangku.
Aku diam dan orang-orang pun diam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengulangi kata-kata beliau.
Maka aku berkata, “Aku wahai Rasulullah!”
Beliau pun berkata, “Kamu hai Ali! Kamu hai Ali!”
[Haitsami (8/302) berkata: Diriwayatkan oleh Bazzar, dan lafal tersebut menurut riwayatnya. Juga oleh Ahmad secara ringkas, dan Thabarani dalam Mitab Al-Mu’jamul-Ausath secara ringkas pula.
Perawi Ahmad dan salah satu dari dua sanad Bazzar adalah para perawi Kitab Shobih selain Syarik, dan ia adalah perawi yang tsiqat].
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Ibnu Abi Hatim dengan lafal yang semakna.
Dalam hadisnya disebutkan: Lalu beliau berkata, “Siapa diantara kalian yang bersedia menunaikan utangku dan menggantikanku dalam mengurusi keluargaku?”
Maka orang-orang diam dan Abbas pun diam, karena khawatir bahwa hal itu akan menghabiskan hartanya.
Aku pun diam karena memandang usia Abbas.
Kemudian beliau mengatakannya sekali lagi. Namun Abbas tetap diam.
Ketika aku melihat keadaan seperti itu, aku pun berkata, “Aku wahai Rasulullah!”
Padahal pada hari itu penampilanku lah yang paling buruk diantara mereka. Kedua mataku kabur dan berair, perutku buncit, dan kedua betisku kecil.
[Demikian dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir (3/351)].












