Setelah orang-orang tidak mempedulikan diriku berlangsung cukup lama, aku pergi dan masuk ke kebun milik Abu Qatadah dengan cara memanjat tembok pagarnya.
Abu Qatadah adalah keponakanku dan orang yang paling aku sayangi.
Aku pun mengucapkan salam kepadanya. Namun, demi Allah! la tidak membalas salamku.
Aku berkata kepadanya, “Hai Abu Qatadah! Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah! Sejauh yang kamu ketahui, apakah aku ini mencintai Allah dan Rasul-Nya?”
Abu Qatadah tetap diam. Lalu Aku mengulangi pertanyaanku kepadanya dengan nama Allah.
Namun ia tetap diam. Aku mengulangi pertanyaanku lagi kepadanya dengan nama Allah.
Akhirnya ia menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Maka air mataku berlinang. Lalu aku berpaling pergi dan keluar dari tempat itu dengan memanjat tembok pagarnya.
Suatu hari, ketika aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba seorang petani dari Syam yang membawa bahan makanan untuk ia jual di Madinah berkata, “Siapa yang dapat menunjukkan kepadaku di mana Ka’b bin Malik?”
Orang-orang pun menunjukkan jari mereka kepadaku untuk memberitahu petani itu.
Ketika petani itu sampai di depanku, ia menyerahkan kepadaku sepucuk surat dari raja Ghassan” (yang terbungkus sehelai kain sutera].
Surat itu berisi: “Amma ba’du! Sesungguhnya telah sampai berita kepadaku bahwa pemimpinmu telah berpaling darimu. Sedangkan Allah tidak akan membiarkanmu dalam keadaan terhina dan disia-siakan.
Oleh karena itu, bergabunglah bersama kami. Kami akan berbagi denganmu.”
Setelah membaca surat itu aku berkata, “Sungguh! Ini juga merupakan suatu ujian yang berat.”
Lalu aku membawa surat tersebut ke tempat pemanggangan roti, dan aku masukkan surat itu ke dalamnya.
Demikianlah keadaan kami bertiga. Kemudian setelah masa empat puluh malam berlalu dari sanksi lima puluh malam yang kami terima, seseorang yang diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepadaku dan berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kepadamu agar menjauhkan diri dari istrimu.”
Aku bertanya kepadanya, “Haruskah aku menceraikannya? Atau apa yang harus aku lakukan?”
la berkata, “Tidak perlu. Namun menjauhlah kamu darinya, dan jangan mendekatinya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengirim pesan kepada dua orang yang senasib denganku, dengan perintah yang sama.
Aku pun berkata kepada istriku, “Kembalilah kamu kepada keluargamu. Tinggallah kamu di sana sampai Allah memberikan keputusan-Nya mengenai masalah ini.”











