6 - Jihad

Ka’b bin Malik Al-Ansari Tak Menyertai Nabi pada Perang Tabuk Dikucilkan 50 Hari, Taubatnya Diterima Allah (2)

16
×

Ka’b bin Malik Al-Ansari Tak Menyertai Nabi pada Perang Tabuk Dikucilkan 50 Hari, Taubatnya Diterima Allah (2)

Sebarkan artikel ini

Kemudian istri Hilal bin Umayyah menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah! Hilal bin Umayyah sudah tua renta dan lemah. la juga tidak mempunyai pembantu. Apakah engkau tidak suka bila aku melayaninya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak, akan tetapi jangan sampai ia mendekatimu.”

Istri Hilal berkata, “Demi Allah! la tidak mempunyai hasrat sedikit pun (terhadapku). Demi Allah! la terus menerus menangis sejak mendapatkan masalah ini hingga hari ini.”

Salah seorang keluargaku berkata kepadaku, “Alangkah baiknya jika engkau juga meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai istrimu agar ia boleh melayanimu seperti izin yang diajukan oleh Hilal bin Umayyah agar istrinya boleh melayani.”

Aku berkata, “Demi Allah, aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai istriku.

Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika aku meminta izin kepada beliau, sedangkan aku adalah seorang lelaki yang masih muda.”

Setelah itu, aku menunggu sepuluh hari hingga genaplah masa lima puluh malam sejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang orang-orang berbicara kepada kami.

Seusai aku mengerjakan shalat Shubuh, pada pagi hari setelah malam yang kelima puluh ketika aku berada di atas atap salah satu rumahku, saat itu aku duduk dalam keadaan sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ‘azza wajalla, yakni jiwaku terasa sempit dan bumi pun terasa sempit bagiku, padahal bumi itu luas.

Aku mendengar suara orang yang berteriak dari puncak bukit Sala’. la menyeru.dengan suaranya yang sangat keras, “Hai Ka’b! Terimalah kabar gembira untukmul”

Aku langsung menyungkur bersujud. Aku mengetahui bahwa kebebasanku dari masalah ini telah tiba.

Seusai mengerjakan shalat Shubuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumumkan kepada semua orang bahwa Allah telah menerima taubat kami.

Orang-orang pun langsung menyampaikan kabar gembira itu kepada kami. Para penyampai kabar gembira datang pula kepada dua orang yang senasib denganku.

Seorang laki-laki datang dengan memacu kudanya ke tempatku.

Seseorang yang lain dari kabilah Aslam berlari menaiki gunung.

Maka suara teriakan orang itu lebih cepat sampainya daripada kuda.

Kemudian ketika orang yang telah aku dengar suaranya menyampaikan kabar gembira itu tiba di tempatku, aku pun melepas kedua pakaian yang aku kenakan. Kemudian aku memberikannya kepada orang itu sebagai balasan atas kabar gembira yang disampaikannya.

Demi Allah! Pada hari itu aku tidak mempunyai pakaian yang lain selain pakaian itu, sehingga aku meminjam dua helai pakaian dari orang lain, lalu aku memakainya.

Kemudian aku pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Orang-orang pun menyambutku berdondong-bondong untuk mengucapkan selamat kepadaku atas diterimanya taubatku.

Mereka berkata, “Selamat atas diterimanya taubatmu oleh Allah.”

error: Content is protected !!