Lalu, aku katakan, “Amirul Mukminin masih hidup, dan tidak boleh ada dua khalifah yang saling memandang satu sama lain.”
Umar radhiyalliahu ‘anhu mengatakan, “Angkatlah aku (untuk duduk).”
Kami pun mengangkatnya untuk duduk, lalu dia berkata, “Bermusyawarahlah kalian selama
tiga hari, dan yang akan menjadi imam adalah Shuhaib.”
Mereka bertanya, “Dengan siapa kami akan bermusyawarah, wahai Amirul Mukminin!”
Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Bermusyawarahlah dengan Kaum Muhajirin, Kaum Anshar, dan para pimpinan pasukan yang hadir di sini.
Kemudian, Umar radhiyallahu ‘anhu meminta diambilkan seteguk susu, lalu ia meminumnya. Air susu itu keluar dari dua bekas tikaman.
Umar pun merasa bahwa ajalnya sudah dekat, la berkata, “Saat ini, seandainya seluruh dunia ini menjadi milikku, tentu akan aku gunakan untuk menebus diriku agar diselamatkan dari ancaman-ancaman yang akan datang setelah
mati.
Namun demikian,-al-hamdulillah-yang aku harapkan hanyalah kebaikan.”
Ibnu Abbas berkata, “Jika demikian, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berdoa agar Allah mengukuhkan Islam dan kaum muslimin denganmu sewaktu mereka tinggal di Makah dalam ketakutan.
Ketika engkau masuk Islam, keislamanmu itu menjadi kekuatan bagi kaum muslimin, dan denganmu, Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya mendapat kemenangan.
Engkau pun hijrah ke Madinah, maka hijrahmu menjadi kemenangan Islam.
Setelah itu, engkau selalu turut serta dalam peristiwa bersejarah yang diikuti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni jihad melawan kaum musyrikin pada hari ini dan itu.
Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, sedangkan beliau ridha terhadapmu.
Lalu, engkau mendukung khalifah beliau, mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Bersama yang taat, engkau hantam orang-orang yang membangkang, sehingga orang-orang berbondong-bondong masuk Islam, baik dengan suka-rela maupun terpaksa.
Kemudian, khalifah pun wafat dalam keadaan ridha terhadapmu. Engkau pun memimpin rakyat dengan cara yang sebaik-baiknya.
Dengan sebabmu, Allah membangun kota-kota, menghimpun harta-benda, menyingkirkan musuh dan memberikan kelapangan dalam urusan agama maupun rezeki dalam setiap rumah.
Kemudian, Allah mengakhiri hidupmu sebagai syahid. Semoga Allah menyejahterakanmu.”
Umar berkata, “Demi Allah. Orang yang memakan mentah-mentah kata-kata.kalian yang memperdaya itu, dialah yang terpedaya.”
la melanjutkan, “Abdullah! Apakah kamu mau bersaksi untukku di sisi Allah pada hari kiamat?”











