Ibnu ‘Abbas menjawab, “Ya.”
Umar radhiyallahu ‘anhu mengucapkan, “Ya Allah, bagiMu segala puji. -Abdullah bin Umar! Letakkan pipiku di atas tanah.”
Lalu, kepalanya yang semula di pahaku, aku pindahkan ke betisku.”
Umar radhiyallahu ‘anhu mengulangi, “Letakkan pipiku di atas tanah.”
Ibnu Umar pun meletakkan jenggot dan pipi ayahnya di atas tanah, lalu Umar berkata kepada dirinya sendiri, “Celakalah kamu, dan celaka pula ibumu, hai Umar, jika Allah tidak mengampunimu.”
Setelah berkata demikian, la pun wafat. Semoga Allah mencurahkan rahmat untuknya.
Setelah Umar wafat, orang-orang mengirim utusan untuk mengundang Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu.
Ia menjawab, aku tidak akan datang kepada kalian, jika kalian tidak melaksanakan perintah Umar kepada kalian, yakni bermusyawarah dengan kaum Mahajirin, Anshar dan para pimpinan pasukan yang ada di sini.”
Ketika seseorang menyebutkan apa yang dilakukan Umar radhyallahu ‘anhu menjelang wafatnya, serta rasa takutnya pada Rabbnya. Hasan (Al Bushri) berkata “Demikianlah seharusnya sikap seorang mukmin: Menggabungkan antara ihsan dan takut kepada Allah.
Sedangkan orang munafik menggabungkan antar perbuatan buruk dan harapan palsu (atas ampuman Allah).
Demi Allah! Baik dulu maupun sekarang belum pernah aku temukan orang yang bertambah kebaikannya tanpa bertambah rasa takutnya kepada Allah.
Sebaliknya, baik dulu maupun sekarang, belum pernah aku temukan orang yang bertambah keburukannya tanpa bertambah harapan palsunya (atas ampunan Allah)
[Haitsami (9/76) berkata: Sanadnya Hasan].











