IMAM BUKHARI meriwayatkan beserta sanadnya dari Ka’b bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku tidak pernah tertinggal dalam setiap peperangan yang diikuti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kecuali perang Tabuk.
Memang, aku tidak ikut serta dalam perang Badar, namun Allah tidak mencela seorang pun yang tidak ikut serta di dalamnya.
Hal itu karena pada perang Badar, semula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya ingin menghadang kafilah dagang Quraisy yang datang dari Syam.
Akhirnya Allah mempertemukan antara kaum muslimin dan musuh mereka tanpa kesepakatan sebelumnya.
Aku telah menyertai Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam ‘Aqabah, ketika kami saling berjanji untuk berpegang teguh kepada agama Islam.
Aku tidak mau jika peristiwa itu ditukar dengan perang Badar sekalipun, meskipun perang Badar lebih dikenang orang daripada baiat ‘Aqabah.
Beginilah kisahku:
Belum pernah badanku terasa bugar dan mempunyai keluasan harta daripada ketika aku tidak ikut serta dalam perang Tabuk.
Demi Allah! Sebelumnya aku tidak pernah memiliki dua ekor hewan tunggangan sekaligus, tetapi pada waktu perang.Tabuk, aku memiliki dua ekor hewan tunggangan.
Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa setiap kali akan berangkat berperang, beliau menyamarkan tujuannya dengan kata-kata yang mengesankan tempat lain yang dekat, kecuali perang Tabuk ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berencana untuk berangkat berperang ke Tabuk dalam cuaca yang sangat panas, perlu menempuh perjalanan sangat jauh di padang luas, serta akan menghadapi musuh yang sangat banyak.
Maka beliau mengungkapkan kepada kaum muslimin tentang keadaan sebenarnya yang akan mereka hadapi, agar mereka bersiap-siap untuk menghadapi perang tersebut.
Beliau pun memberitahu mereka dengan jelas mengenai tempat yang akan mereka tuju.
Pada saat itu, kaum muslimin yang menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat banyak, tidak memungkinkan untuk dicatat dalam sebuah daftar.
Siapa pun yang berencana untuk tidak ikut serta pasti ia mengira bahwa tindakannya itu tidak akan diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (karena begitu
banyaknya jumlah pasukan), asalkan tidak turun wahyu dari Allah tentang dirinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak berangkat untuk perang tersebut.ketika kebun-kebun menghasilkan buah-buahan yang baik dan dedaunannya rindang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin pun mempersiapkan.diri.
Lalu aku pergi untuk mengusahakan persiapan (bekal perjalanan dan perlengkapan perang), namun aku pulang lagi tanpa membuat persiapan apa pun.
Aku berkata dalam hati, “Aku bisa membuat persiapan tersebut (sewaktu-waktu).”
Demikianlah, keadaan terus membuatku menunda-nunda persiapan, hingga semua orang telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh.











