Lima di antaranya kami diperintahkan oleh utusan-utusanmu untuk mengamalkannya.
Dan lima diantaranya kami telah membiasakan diri dengannya pada zaman jahiliah, maka kamipun masih melakukannya, kecuali jika engkau tidak menyukainya.”
-Lalu perawi melanjutkan hadisnya mengenai iman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, para utusanNya, dan takdir yang baik dan yang buruk, serta rukun-rukun Islam dan akhlak-akhlak yang baik.
4. Kisah Seorang Munafik yang Datang Kepada Nabi SAW. untuk Memohon Ampunan, Lalu Beliau Memohonkan Ampunan Untuknya
ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dari ibnu Umar radhiyalláhu anhu, ia berkata: Ketika aku sedang duduk bersama Nabi shallallàhu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba datang kepadanya Harmalah bin Zaid Al-Ansari radhiyallâhu ‘anhu salah seorang dari kabilah Bani Haritsah.
la pun duduk di hadapan Rasulullah shallallàhu ‘alaihi wasollam, lalu berkata, “Wahai, Rasulullah. Iman ada di sini -ia menunjukkan tangannya ke arah lidahnya-, sedangkan kemunafikan ada disini ia meletakkan tangannya di atas dadanya– tidak mengingat Allah kecuali sedikit saja.”
Maka Rasulullah shallallàhu ‘alaihi wasallam diam. Harmalah pun mengulangi ucapannya itu.
Lalu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam memegang ujung lidah Harmalah, lalu berdoa: “Ya, Allah. Jadikanlah untuknya lidah yang jujur dan hati yang bersyukur. Karuniakanlah kepadanya rasa cinta kepadaku dan rasa cinta kepada orang yang mencintaiku, dan jadikanlah kesudahannya dalam kebaikan.”
Lalu Harmalah berkata kepadanya, “Wahai, Rasululah. Saya memiliki saudara-saudara yang munafik. Dulu saya adalah kepala mereka. Tidakkah sebaiknya saya tunjukkan engkau kepada mereka?”
Lalu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa datang kepada kami sebagaimana kamu datang, kami akan memohonkan ampunan untuknya sebagaimana kami memohonkan ampunan untukmu, dan barangsiapa tetap meneruskan kemunafikannya, maka Allahlah yang berhak untuk bertindak terhadapnya!” ([Demikian dalam Kitab Kanzul-“Ummâl (2/250)].
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Thabarani dan sanadnya lâ ba’sa bih.
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh ibnu Mandah, dan telah kami riwayatkan dalam Fawa idu Hisyami-bni ‘Ammar sebuah riwayat dari Ahmad bin Sulaiman dari Abu Darda’ radhiyallâhu ‘anhu dengan lafal yang sebagian besarnya sama.
[Demikian dalam kitab Al-Ishabah (1/320)].



