Menurut riwayat Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhâ, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mengerjakan qiyamullail hingga kedua telapak kakinya pecah-pecah.
Lalu, aku berkata kepada beliau, “Mengapa engkau mengerjakan salat hingga sedemikian, wahai Rasulullah, padahal engkau telah diampuni?” -Lalu, perawi melanjutkan riwayatnya dengan lafal yang sebagian besarnya sama.
Diriwayatkan pula dari Mughirah radhiyallahu ‘anhu dengan lafal yang sebagian besarnya sama, -sebagaimana dalam kitab Riyadhush-Shâlihin (hal. 429).
Menurut riwayat ibnu Najjar dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mengerjakan qiyamullail hingga kedua kakinya pecah-pecah.
Menurut riwayatnya pula dari Anas, la berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beribadah sedemikan rupa hingga beliau menjadi seperti sebuah gerba usang.
Orang orang berkata, “Wahal, Rasulullah. Apa yang membuatmu beribadah sedemikian? Bukankah Allah telah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”
Beliau bersabda, “Benar, tidakkah sepatutnya aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [Demikian dalam kitab Kanzul-Ummal (4/36)].
Bukhari dan Muslim meriwayatkan beserta sanadnya dari Humaid, la berkata: Suatu kali, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang salat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ia menjawab: Apabila kita ingin melihat beliau sedang salat di malam hari, kita pasti dapat melihatnya, dan apabila kita ingin melihat beliau sedang tidur (pada saat yang sama di lain hari), kita pasti dapat melihatnya pula.
Beliau sering berpuasa dalam sebulan sehingga kita mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkan puasa walau sehari dalam bulan itu, dan beliau pun sering tidak berpuasa sehingga kita mengira bahwa beliau tidak pernah berpuasa walau sehari dalam bulan itu.






