IBNU JARIR meriwayatkan beserta sanadnya dari Ibnu Abbas, dia berkata; Ketika Abu Thalib sakit, datanglah beberapa orang dari kabilah Quraisy menemuinya. Diantara mereka ada Abu Jahal.
Lalu mereka berkata: “Keponakanmu senantiasa mencela tuhan-tuhan kita serta berbuat dan berkata macam-macam. Alangkah baiknya jika engkau mengutus seseorang untuk memanggilnya, lalu engkau larang dia.”
Lalu Abu Thalib berkata kepadanya: “Wahai keponakanku! Ada masalah apa dengan kaummu? Mereka mengadukanmu dan mengatakan bahwa kamu mencaci tuhan-tuhan mereka serta berkata macam-macam.”
Ibnu Abbas berkata, “Orang-orang Quraisy yang hadir pun menambahkan banyak komentar terhadap beliau.”
Nabi saw. bersabda: “Wahai paman sesungguhnya aku ingin agar mereka mengucapkan satu kalimat yang dengannya orang-orang Arab akan tunduk kepada mereka dan orang-orang non Arab akan membayar jizyah kepada mereka.”
Abu Thalib berkata: “Kalimat apakah itu hai keponakanku?”
Nabi saw. bersabda: “Laa ilaha illallah.”
Mereka pun berdiri terkejut seraya mengibaskan pakaian mereka dan berkata: “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”
Lalu turunlah ayat: “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar satu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), ‘Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir, ini (mengesakan Allah) tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan, mengapa Al Quran itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al-Quran-Ku dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-ku.” (QS. Shaad : 5 – 8).
Demikian ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, Nasa’i, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir. Mereka semua meriwayatkanya di dalam kitab-kitab tafsir yang mereka tulis.Diriwayatkan pula oleh Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits Hasan. [Demikian dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir (4/28)].
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Baihaqi (9/188) dan Al-Hakim (2/432) dengan lafal semakna.[Al-Hakim berkata: Ini adalah hadits yang sanadnya sahih, namun Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya beserta sanadnya dalam kitab shahih mereka]. [Dzahabi berkata: Sahih].












