Allah ta’âlâ telah berfirman, dan firman-Nya tidak akan Dia ingkari: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.
Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nûr: 55)
Demi Allah! Seandainya mereka tidak mau membayarkan kepadaku seutas tali sekalipun (sebagai zakat) yang dahulu biasa mereka bayarkan kepada Rasulullah SAW., kemudian pepohonan, bebatuan, bangsa jin dan seluruh manusia berpihak kepada mereka, tentu aku akan berjihad melawan mereka, sampai ruhku berjumpa dengan Allah!
Allah tidak pernah memisahkan antara shalat dan zakat, namun Allah menyatukan keduanya.”
Umar pun bertakbir, lalu berkata, “Demi Allah! Ketika Allah meneguhkan hati Abu Bakar untuk berjihad melawan orang-orang yang menolak membayar zakat, barulah aku menyadari bahwa ini merupakan suatu kebenaran.”
[Demikian dalam Kitab Kanzul-Ummal (3/142)].
IBNU ‘Asakir meriwayatkan beserta sanadnya dari Shalih bin Kaisan, ia berkata: Ketika terjadi kemurtadan besar-besaran (setelah wafatnya Rasulullah), Abu Bakar RA. berdiri (untuk menyampaikan khutbah).
la pun memuji Allah dengan hamd dan tsanâ, lalu berkata, “Segala puji bagi Allah, Yang telah membimbing, maka cukuplah dengan bimbingan-Nya, Yang telah memberi lalu mencukupkan pemberian-Nya.
Dahulu Allah mengutus Muhammad SAW., ketika ilmu dalam keadaan terlunta-lunta, Islam dianggap asing dan terbuang, tali pancangnya begitu lemah, masa telah berlalu begitu lama, pengikutnya pun telah tersesat, dan Allah murka terhadap ahlul-kitab.
Mereka telah mengubah kitab sucinya, dan menambahkan hal-hal yang sebenarnya tidak ada di dalamnya.
Disisi lain, orang-orang Arab yang buta huruf tidak memiliki hubungan dengan Allah.
Mereka tidak menyembah-Nya dan tidak pula berdoa kepada-Nya.
Mereka memiliki taraf kehidupan yang paling memprihatinkan, menganut agama yang paling sesat, dan tinggal di daratan yang paling keras.
Ketika itu Rasulullah SAW. hanya disertai beberapa orang sahabat.
Lalu Allah menghimpun mereka dengan sebab Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam, dan menjadikan mereka sebagai umat yang terbaik.
Allah telah menolong mereka melalui orang-orang yang mengikuti mereka, dan menolong mereka mengalahkan yang lain, sampai akhirnya Allah mengambil nyawa Nabi-Nya.
Setan pun kembali naik ke atas orang-orang Arab di tempat yang dahulu telah diturunkan oleh Allah darinya.
Setan pun menggandeng tangan mereka dan bermaksud membinasakan mereka.”
(Kemudian Abu Bakar membaca ayat): “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imrân: 144).
“Orang-orang Arab yang tinggal di sekitar kalian menolak membayar kambing dan unta mereka (sebagai zakat).











