Menurut riwayat Thabarani dari Abdullah bin Abdullah bahwa ia pernah meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membunuh ayahnya, lalu beliau bersabda, “Jangan kamu bunuh ayahmu.”
Menurut riwayat Ibnu Ishak dari ‘Ashim bin Umar bin Qatadah bahwa Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul radhiyallahu ‘anhu datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, “Telah sampai kabar kepadaku bahwa engkau ingin membunuh Abdullah bin Ubay karena ucapannya kepadamu, jika.benar demikian, izinkanlah aku untuk melakukannya.
Aku akan membawakan kepalanya kepadamu. Demi Allah! Kabilah Khazraj mengetahui bahwa di sana, tidak.ada orang yang lebih berbakti kepada ayahnya daripada aku.
Sementara itu, aku khawatir bahwa jika engkau perintahkan kepada orang lain untuk membunuhnya, naluriku tidak akan membiarkanku melihat orang yang membunuh Abdullah bin Ubay berjalan di antara orang-orang, lalu aku membunuhnya.
Dengan demikian, berarti aku membunuh orang mukmin karena membalas dendam atas seorang kafir, dan tentu aku akan masuk neraka.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bukan begitu, tapi kamu bersikaplah lembut kepadanya dan kita pun akan bersikap baik kepadanya selama ia bersama kita.”
(Demikian dalam kitab Al-Bidayah Wan-Nihayah (4/158)).
Thabarani meriwayatkan beserta sanadnya dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari peperangan Bani Mushthaliq, Abdullah bin Abdullah bin Ubay radhiyallahu ‘anhu berdiri menghunus pedang di hadapan ayahnya, seraya berkata, “Aku bernazar kepada Allah, bahwa aku tidak akan menyarungkannya sebelum kamu berkata: ‘Muhammad adalah orang yang kuat dan aku orang yang lemah.”
Abdullah bin Ubay pun mengatakan, “Celakalah kamu! Muhammad adalah orang yang kuat dan aku orang yang lemah.”
Lalu, ketika kabar tersebut sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau kagum dan memuji Abdullah bin Abdullah bin Ubay atas perbuatannya itu.
[Haitsami (4/318) berkata: Dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Hasan bin Zabalah, rawi yang dha’if].
Ibnu Syahin meriwayatkan beserta sanadnya dengan sanad hasan dari ‘Urwah, ia berkata: Hanzhalah bin Abu ‘Amir dan Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul -radhiyallahu ‘anhumâ- meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membunuh kedua orangtua mereka (yang kafir), maka beliau melarang mereka.
[Demikian dalam kitab Al-Ishâbah (1/361)]
4. Peristiwa yang Terjadi Antara Abu Bakar dan Anaknya -Abdurrahman- Radhiyallahu ‘Anhuma pada Peristiwa Perang Badar
IBNU ABI SYAIBAH meriwayatkan beserta sanadnya dari Ayyub, ia berkata: Abdurrahman bin Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma berkata kepada Abu Bakar, “Pada peristiwa perang Uhud, aku melihatmu, lalu aku menghindar darimu.”
Maka Abu Bakar berkata, “Akan tetapi, seandainya aku melihatmu, aku tidak akan menghindar darimu.”
[Demikian dalam kitab Kanzul-‘Ummâl (5/274)].
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh al-Hakim (3/475) dari Ayyub dengan lafal yang sebagian besarnya sama.
Al-Hakim menyampaikan riwayat dari Waqidi bahwa pada peristiwa perang Badar, Abdurrahman menyerukan tantangan untuk berduel.
Lalu, ayahnya -Abu Bakar radhyallahu anhu- berdiri untuk menerima tantangan duel dengannya.












