Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya, apabila seorang muslim berwudu dengan sempurna, kemudian mengerjakan salat lima waktu, maka gugurlah dosa-dosanya sebagaimana daun-daun ini berguguran.’
Beliau pun membaca ayat: “Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada sebagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya, perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hûd: 114).
[Mundziri berkata dalam kitab At-Targhib Wat-Tarhib (1/201): Para perawi Ahmad diterima riwayat mereka dalam kitab Shahih kecuali Ali bin Zaid].
2. Kisah Dua Laki-Laki Bersaudara yang Salah Satunya Mati Syahid dan yang Lain Mati Kemudian
AHMAD meriwayatkan beserta sanadnya dari ‘Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash, ia berkata: Aku mendengar Sa’d radhiyallahu ‘anhu dan beberapa orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ada dua orang laki-laki bersaudara. Salah satunya lebih utama dari yang lain.
Orang yang lebih utama itu meninggal lebih dahulu, sedangkan saudaranya diberi umur yang lebih panjang, kemudian ia pun meninggal.
Lalu, seseorang menyampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang keutamaan orang yang lebih dahulu meninggal dibandingkan saudaranya.
Beliau pun bersabda, “Bukankah ia mengerjakan salat?”
Para sahabat berkata, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kamu, sejauh mana salatnya itu telah mengangkat derajatnya?”
Kemudian, ketika itu beliau bersabda, “Perumpamaan salat adalah seperti sebatang sungai di dekat pintu rumah seseorang yang airnya mengalir deras dan segar. Orang itu mencebur (mandi) di dalamnya lima kali setiap hari. Maka menurut kalian, apakah masih ada daki yang tersisa pada tubuhnya?”
[Haitsami (1/297) berkata: Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabarani dalam kitab Al-Mu’jamul-Ausath, hanya saja ia menyebutkan, “Kemudian, saudaranya itu masih hidup selama empat puluh hari sepeninggalnya.” Para perawi Ahmad adalah perawi kitab Shahih).
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Malik, Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya, sebagaimana dalam kitab At-Targhib wat-Tarhib (1/206).
Ahmad meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Adalah dua orang dari marga Baliy (sebuah marga dari kabilah Qudha’ah) yang masuk Islam di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kemudian, salah seorang di antara mereka gugur sebagai syahid dan yang lain meninggal satu tahun kemudian.
Thalhah bin ‘Ubaidullah berkata: Lalu aku melihat (dalam mimpi) bahwa orang yang meninggal lebih akhir di antara mereka dimasukkan ke Surga lebih dahulu sebelum yang mati syahid. Aku pun merasa heran atas hal itu.
Lalu, pada keesokan harinya, aku menceritakan mimpiku itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam -atau mimpiku itu diceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam- Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bukankah orang yang meninggal lebih akhir itu telah berpuasa Ramadan sepeninggal si syahid, mengerjakan salat (fardu) sebanyak enam ribu (6.000) rakaat, serta sekian rakaat salat (sunah) selama satu tahun?”
[Mundziri berkata dalam kitab At-Targhib (1/208): Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad hasan.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dan Baihaqi, semuanya dari Thalhah dengan lafal yang sebagian besarnya sama dengan lafal yang lebih panjang darinya.
Ibnu Majah dan Ibnu Hibban menambahkan pada bagian akhirnya, “Sungguh, jarak antara mereka lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi.”).











