7. Kecintaan Abu Thalhah Al-Anshari dan Seorang Sahabat Ansar Lainnya Radhiyallahu ‘Anhuma Terhadap Shalat
IMAM MALIK meriwayatkan beserta sanadnya dari Abdullah bin Abu Bakar, bahwa ketika Abu Thalhah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu mengerjakan salat di kebun kurma miliknya, terbanglah seekor burung merpati kecil.
Burung itu terbang kian kemari mencari jalan keluar, namun tidak menemukannya.
Abu Thalhah pun terpesona dengan pemandangan itu. la terus memandangi burung itu sesaat.
Kemudian, ia kembali meneruskan salatnya, namun dia tidak tahu lagi berapa rakaat salat yang telah ia kerjakan.
Ia pun berkata, “Sungguh, cobaan telah menimpaku karena sebab hartaku.” Lalu, ia datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menceritakan kepada beliau apa yang telah menimpanya ketika sedang salat.
la berkata, “Wahai, Rasulullah! Kebun itu saya sedekahkan. Silakan engkau salurkan sekira yang engkau inginkan.”
[Demikian dalam kitab At-Targhib wat-Tarhib (1/316). Mundziri berkata: Abdullah bin Abu Bakar tidak mengalami kisah tersebut].
Imam Malik juga meriwayatkan beserta sanadnya dari Abdullah bin Abu Bakar bahwa salah seorang sahabat Ansar mengerjakan salat di kebun kurma miliknya di lembah Quff -salah satu lembah di Madinah pada musim kurma.
Ketika itu, tandan pohon kurma telah melengkung ke bawah karena kurmanya sudah matang. la pun memandanginya sehingga terpesona akan pemandangan buah kurma yang ia lihat.
Kemudian, ia kembali meneruskan salatnya, namun dia tidak tahu lagi berapa rakaat salat yang telah ia kerjakan.
Ia berkata, “Sungguh, cobaan telah menimpaku karena hartaku.” Lalu, ia datang menemui Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu yang pada masa itu sedang menjadi khalifah.
Lalu, la menceritakan kisah itu kepadanya dan berkata, “Kebun kurma itu saya sedekahkan. Silakan engkau salurkan dalam kebaikan.”
Maka Utsman bin ‘Affan menjualnya dengan harga lima puluh ribu (50.000) dirham, sehingga kebun itu disebut dengan “Khamsin” (lima puluh). [Demikian dalam kitab Aujazul-Masâlik (1/315)].






