1. Perkataan Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘Anhumâ Mengenai Shalat
HAKIM At-Tirmidzi meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Salat adalah (sumber) perlindungan Allah di muka bumi.” [Demikian dalam kitab Kanzul-‘Ummâl (4/180)].
Ibnu Sa’d meriwayatkan beserta sanadnya dari Abul-Malih, ia berkata: Aku mendengar Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata di atas mimbar, “Tidak ada (bagian kebaikan dari) Islam bagi orang yang tidak mengerjakan salat.” [Demikian dalam kitab Kanzul-‘Ummal (4/180)].
2. Perkataan Zaid, Hudzaifah, Ibnu Umar dan Ibnu ‘Amr Rodhiyallohu ‘Anhum Mengenai Shalat
ABDUR RAZZAQ meriwayatkan beserta sanadnya dari Zaid bin Tsabit rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata, “Salat seseorang di rumahnya bagaikan cahaya. Apabila seseorang berdiri untuk mengerjakan salat, maka dosa-dosanya digantungkan di atasnya.
Lalu, setiap kali ia bersujud, Allah menggugurkan dosa-dosanya.” [Demikian dalam kitab Kanzul-Ummal (4/181)].
Abdur-Razzaq meriwayatkan beserta sanadnya dari Hudzaifah radhiyallohu ‘anhu, ia berkata, “Apabila seorang hamba berwudu dengan sempurna, kemudian berdiri untuk mengerjakan salat, maka Allah menghadap ke arahnya untuk berbincang dengannya. Dia tidak akan berpaling darinya kecuali jika orang itu sendiri yang pergi atau menoleh ke kanan atau ke kiri.” [Demikian dalam kitab Kanzul-‘Ummal].
Abdur-Razzaq meriwayatkan beserta sanadnya dari ibnu Umar radhiyallohu ‘anhuma, ia berkata, “Salat adalah kebaikan. Aku tidak peduli siapa yang mencampuri urusanku’ ketika mengerjakannya.” [Demikian dalam kitab Kanzul-‘Ummál].
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan beserta sanadnya dari ibnu ‘Amr radhiyallohu ‘anhuma, ia berkata: Apabila seorang muslim datang ke suatu permukaan yang tinggi di muka bumi atau masjid yang dibangun dengan bebatuannya, lalu ia mendirikan salat di sana, maka pasti bumi berkata, “la mengerjakan salat karena Allah di atas bumiNya. Aku pun akan bersaksi untukmu pada hari ketika kamu bertemu denganNya.”
Menurut riwayat Abdur-Razzaq dari ibnu ‘Amr, ia berkata, “Pada leher Adam ‘alaihis-salam pernah timbul bisul. Lalu, ia mengerjakan salat, maka turunlah bisul itu ke dadanya.
Kemudian, ia mengerjakan salat lagi, maka turunlah bisul itu ke pinggang. Kemudian, ia mengerjakan salat lagi, maka turunlah bisul itu ke mata kaki.
Kemudian, ia mengerjakan salat lagi, maka turunlah bisul itu ke ibu jari. Kemudian, la mengerjakan salat lagi, akhirnya bisul itu pun hilang.” [Demikian dalam kitab Kanzul-Ummal (4/181)].
3. Perkataan Ibnu Mas’ud, Salman dan Abu Musa Radhiyallahu ‘Anhum Mengenai Shalat
ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya’ dari ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, la berkata, “Selama kamu di dalam salat, berarti kamu sedang mengetuk pintu Sang Raja, dan barangsiapa mengetuk pintu Sang Raja, Dia pasti akan membukakan pintu untuknya.”
Menurut riwayat Abdur-Razzaq dari ibnu Mas’ud, la berkata, “Bawalah keperluan-keperluan kalian kepada salat fardu.”
Menurut riwayatnya pula dari ilbnu Mas’ud, la berkata, “Salat adalah penghapus dosa yang dilakukan di antara waktu-waktu salat itu selama dosa besar dapat dijauhi.”
Menurut riwayat ibnu ‘Asakir dari ibnu Mas’ud, la berkata, “Salat adalah penghapus dosa yang dilakukan setelahnya. Sebuah bisul pernah keluar pada ibu jari kaki Adam.
Kemudian, bisul itu naik ke pangkal telapak kakinya, kemudian naik ke lututnya, kemudian naik ke pangkal pinggangnya, kemudian naik lagi ke pangkal lehernya.
Lalu, Adam berdiri mengerjakan salat, maka turunlah bisul itu dari pundaknya. Kemudian, la pun salat lagi, maka turunlah bisul itu ke pinggangnya.
Kemudian, la salat lagi, maka turunlah bisul itu ke lututnya. Kemudian, la salat lagi. maka turunlah bisul itu ke telapak kakinya. Kemudian, la salat lagi, maka bisul itu pun hilang.” [Demikian dalam kitab Kanzul-‘Ummal (4/181)].











